Payday loans
payday loans

Arsip

Tag Artikel ‘Garam’

Kesehatan dan Konsumsi Garam

garam-300x170Dalam hal mengonsumsi garam, tirulah orang Eskimo, warga Dayak, atau Indian Inca. Mereka nyaris tidak makan garam, tapi tetap bisa hidup. Menu mereka cenderung hambar, namun tidak ada yang kurang dalam kelangsungan kerja mesin tubuhnya. Dan memang seperti itulah yang sesungguhnya tubuh kita butuhkan. Menu asin terbentuk lebih karena budaya orang urban manakala rasa enak garam dapur ditemukan. Budaya gemar garam begini yang tanpa disadari telah merongrong ginjal orang-orang di dunia untuk bekerja lebih keras membuang kelebihan natrium (sodium) dari garam yang ditelan setiap hari.

Padahal, tubuh tidak memerlukan garam sebanyak kebiasaan budaya makan kita. Garam dikenal identik dengan penyakit darah tinggi. Itu sebab bukan cuma orang gedongan yang bisa kena darah tinggi, jika masih banyak rakyat kecil yang menu hariannya ikan asin. Dalam garam dapur terkandung unsur natrium dan klor (NaCl). Unsur natrium penting untuk mengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh, selain bertugas dalam transmisi saraf dan kerja otot.

Apa boleh tidak makan garam?

Kita boleh tidak makan garam, asal ada natrium dalam menu harian. Banyak menu harian yang menyimpan natrium dan itu sudah bisa mencukupi kebutuhan tubuh. Namun, oleh karena natrium yang secara alami terkandung dalam bahan makanan tidak berikatan dengan klor, maka tak memberi cita rasa asin pada lidah kita. Itu berarti, kendati menu yang kita konsumsi tanpa garam atau tak bercita rasa asin, tidak berarti tubuh tak memperoleh kecukupan natrium. Demikian pula kebanyakan menu harian orang Eskimo, Dayak, dan Indian yang tidak asin namun tubuh tidak kekurangan natrium.

Tubuh membutuhkan kurang dari 7 gram garam dapur sehari atau setara dengan 3.000 mg natrium. Kebanyakan menu harian kita memberi berlipat-lipat kali lebih banyak dari itu. Selain meninggikan tekanan darah, kerja ginjal jadi jauh lebih berat untuk membuangnya. Jika sangat berlebihan bisa membuat pikiran kacau dan jatuh koma. Satu sendok teh garam dapur berisi 2.000 mg natrium. Natrium yang terkandung dalam setiap menu modern rata-rata sekitar 500 mg. Pada takaran itu ginjal sudah perlu lembur untuk tetap mempertahankan keseimbangan cairan dan asam-basa agar mesin tubuh tak kacau dari penyakit akibat kelebihan natrium tidak sampai muncul.

Jenis makanan yang banyak mengandung natrium, antara lain, soda kue, bubuk soda sebagai pengawet, obat pencahar (laxative), menu yang dipanggang, keju, makanan kaleng dan laut (seafood), serta padi-padian (cereals). Bagi yang pantang garam, juga perlu menjauhi jenis sumber natrium tinggi ini. Jenis makanan yang rendah natrium, antara lain, buah dan sayur-mayur segar, daging dan unggas segar, jenis cereals dan gandum yang dimasak.

Bukan cuma darah tinggi, orang yang mengidap penyakit jantung dan tungkainya bengkak, perlu membatasi asupan natrium. Begitu juga jika mengidap penyakit ginjal, keracunan kehamilan (toxemia gravidarum), dan gangguan hati. Termasuk mereka yang sedang menjalani terapi dengan obat golongan corticosteroid (pasien asam kena penyakit autoimmune, kulit, ginjal nephritic syndrome).

Namun, jika pantang garam kelewat ketat bisa berbahaya juga. Kekurangan natrium dan klor secara drastis bisa menjadi beban lain bagi ginjal, dengan gejala pembengkakan (oedema) juga. Kaki bengkak lantaran penyakit jantung, hati, atau ginjal, berbeda dengan bengkak karena kekurangan natrium.

Sumber: http://ksupointer.com

Kategori:Kesehatan Tag

Ingin Sehat, Kurangi Konsumsi Garam

salt_kecilGaram sangat akrab dengan kita. Bahkan sejak ribuan tahun yang lalu, garam telah difungsikan sebagai bahan penyedap masakan dan pengawet makanan.

Namun tahukah Anda? Meski enak di lidah, garam bisa mengganggu kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara berlebih. Tepatnya, garam dianggap sebagai pemicu penyakit darah tinggi alias hipertensi. Selain dapat meningkatkan risiko osteoporosis pada perempuan, kelebihan garam di dalam tubuh juga dapat menimbulkan gangguan pada sel-sel, hingga bisa mematikan fungsi sel.  Celaka kan?

Mengapa garam berbahaya?

Dalam garam dapur terkandung unsur sodium dan natrium chlor (NaCl). Sodium, selain penting berfungsi mengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh, juga dibutuhkan untuk kesehatan syaraf dan otot. Sedangkan natrium dibutuhkan tubuh dalam proses pertukaran zat makanan lama dengan yang baru. Kelancaran proses pertukaran sisa makanan di dalam tubuh, tergantung pada kadar natrium di dalam sel.

Natrium beredar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah dan menumpang pada butir-butir darah merah. Seharusnya butir-butir darah merah mendapat pasokan natrium dalam jumlah yang pas. Sebab, bila kekurangan, butir darah merah akan mengempis. Sebaliknya, bila kelebihan butir darah merah akan mengembang dan merobek pembuluh darah.

Tubuh sebenarnya hanya memerlukan sekitar 2 gr atau ½ sendok teh garam per hari. Namun umumnya dalam kehidupan sehari-hari, konsumsi garam kita dapat mencapai 5 gr hingga 6 gr per hari, bahkan lebih. Konsumsi sebanyak itu membuat ginjal bekerja keras untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan asam-basa agar sistem tubuh tak kacau dan tubuh tidak terganggu akibat kelebihan sodium.

Jika Ingin sehat, kurangi konsumsi garam. Tidak mudah melakukannya, karena makanan terasa hambar, dan  badan jadi lemas. Dan, masih banyak keluhan lain yang tidak mendasar. Padahal, tanpa mengonsumsi garam dapur pun, tubuh seseorang tak akan kekurangan sodium dan natrium. Sebab, garam alami bisa didapatkan dari bahan makanan lain diantaranya dari sayur-sayuran dan hasil laut.

Tentang rasa? Anda tak perlu resah. Meski tanpa garam, dijamin masakan Anda tak kalah sedap. Caranya, cobalah berani memakai bumbu masak yang beraroma tajam (banyak memakai rempah-rempah), pedas, juga cita rasa  yang menyegarkan dengan tambahan jeruk nipis.

Nah, mulai sekarang cobalah hidup lebih sehat dengan mengurangi asupan garam pada tubuh.

Sumber dari http://vibizlife.com/health_details.php?pg=health&id=1189&sub=health&awal=390&page=40

Foto: whatscookingamerica.net

Kategori:Kesehatan Tag